Jurnalis Bukan Profesi Main-main

Pertengahan Mei 2018, AJI Surabaya menggelar Uji Kompetensi Jurnalis. AJI melibatkan relawan yang direkrut dari mahasiswa sejumlah kampus di Surabaya. Kami akan memuat secara berseri pengalaman mereka menjadi relawan UKJ AJI. Tulisan ini berdasarkan pengalaman Bastilaga Banowati, mahasiswa FISIP Departemen Komunikasi UNAIR

***

Bastilaga berdiri di sisi kiri meja peserta UKJ (Foto: AJI Surabaya)

‘Experience is the teacher of All things’ betapapun aku termanggut dengan kalimat Julius Caesar itu. Tepatnya di pagi cerah 12 Mei 2018 bertempat di La Lisa Ayola Hotel Surabaya cerita ini berawal. Namun sebelum itu, ku haturkan terima kasih ku pada AJI Surabaya atas kenangan ini. Berkatmu, kumiliki kenangan pembelajaran yang memesona ini.

Di sebuah Uji Kompetensi Jurnalis yang dihelat oleh AJI Surabaya, aku beserta kawan-kawan mahasiswa lain dapat mengintip banyak proses verifikasi wartawan a la AJI. Sebagai mahasiswa komunikasi yang memiliki bidang kerja yang sama, tentunya ini bak kesempatan emas. Betapa tidak, sebagai mahasiswa ecek-ecek di kampus, saya bisa berada dalam satu ruangan dengan banyak wartawan-wartawan senior seperti Pemimpin Redaksi berbagai kantor berita dan para expert media.

Mulai dari sekadar berkumpul, bertukar pikiran hingga menyaksikan langsung bagaimana sebuah tim redaksi bekerja. Tentunya, banyak hal mengejutkan, berikut akan kita bahas. Namun sebelum itu, ku meminta maaf bagi kalian yang tidak bisa mengambil pelajaran dari kisahku ini. Karena sejatinya, guru terbaik adalah pengalaman, dan tulisan hanya bagian kecil di dalamnya. Hehe.

Menjadi wartawan adalah benar-benar bukan profesi yang main-main. Setidaknya kesimpulan itu yang bisa saya ambil pasca menghadiri proses verifikasi itu. Betapa tidak, saya adalah saksi dari keberadaan 20 berkas yang akan diujikan kepada peserta (bagaimana tidak, orang saya yang fotokopi berkasnya, hehe). Lebih dari sekadar itu, jiwa ini menjadi semakin beruntung karena bisa menyaksikan langsung bagaimana mereka (para jurnalis) menyikapi berbagai macam persoalan dalam kegiatan bermedia kita.

Mulai dari kapitalistik institusi media, konvergensi, hingga kredibilitas jurnalis di dalamnya. Hal ini membuat saya terbangun, bahwa selama ini saya hanya mengelaborasi permasalahan ini dengan menggunakan perspektif akademis saja, yang akan menjadi amat berbeda dengan pandangan mereka para praktisi media yang terdiri dari jurnalis media cetak, media online, radio, bahkan pemimpin redaksi beberapa berita lokal di Jawa Timur.

Takdir memang sedang berbaik hati pada saya dan rekan-rekan volunteer saat itu. Di hari kedua, kami diajarkan secara tidak langsung bagaimana sebuah kantor media yang sehat memroduksi berita yang sehat pula. Iya, sehat. Hal ini perlu ditekankan dalam kasus ini berkaitan dengan masih banyak produk dan media yang tidak sehat di luar sana. Melalui sesi role-play, kita tahu bagaimana sebuah tim redaksi merespon peristiwa yang akan diberitakan. R-R-A (Research-Research-Angle) adalah poin pentingnya.

Dalam proses memroduksi berita, seorang jurnalis haruslah bersandar pada riset dan riset, dan tentunya tidak meninggalkan pemilihan angle berita yang nantinya mejadi distinguisasi berita yang dihasilkan dengan berbagai berita di luar sana. Tentunya, dalam hal ini kita juga berdasar pasa aspek signifikansi berita untuk masyarakat.

Terakhir, 48 jam penuh bergaul bersama mereka membuka banyak sekali insight baru dalam dunia media dan jurnalistik, yang tentunya tidak saya dapat dalam puluhan SKS matakuliah di kampus. Yah, memang, meskipun ada malam minggu yang terkorbankan dalam hal ini, namun saya bangga mengorbankan itu untuk ini.

Terima kasih pada keluarga UKJ AJI 2018. Semoga ini takkan hanya jadi kenangan belaka melainkan dapat terimplementasikan secara nyata.

Tertanda,
Mahasiswa ecek-ecek
Bastilaga Banowati / Mahasiswa FISIP Departemen Komunikasi UNAIR

Post Comment