Nobar ++ ASIMETRIS AJI Surabaya, C2O, dan KONTRAS Surabaya

Nobar akan dilanjutkan dengan diskusi oelh AJI Surabaya dan KONTRAS Surabaya.

Setelah menempuh perjalanan 14.000 kilometer menggunakan sepeda motor,
videografer Dandhy Laksono dan Suparta Arz tiba di Kalimantan, yang sedang
berada di puncak tragedi kabut asap. Keduanya mencari tahu dan merekam apa
sesungguhnya penyebab bencana lingkungan yang berdampak pada 69 juta jiwa
manusia itu.

Salah satu sorotannya adalah kepada industri perkebunan kelapa sawit yang
luasnya kini mencapai 11 juta hektar atau hampir sama dengan luas pulau Jawa.
Selain Kalimantan, kisah yang diangkat juga meliputi Sumatera hingga Papua tengah
menghadapi masuknya perkebunan komoditas dunia itu.

ASIMETRIS tak hanya melihat lebih dekat bagaimana dampak industri perkebunan
penghasil devisa terbesar itu bagi masyarakat dan lingkungan, juga menyuguhkan
bagaimana pengaruh industri ini dalam pemerintahan, aparat keamanan, hingga
kalangan media. Bahkan terhadap diri kita dari kamar mandi, dapur, sampai
kendaraan.

Film ini juga melihat bagaimana dukungan lembaga-lembaga keuangan global dan
siapa saja yang sesungguhnya paling diuntungkan, selain 16 juta rakyat Indonesia
yang memang ikut menggantungkan hidupnya pada industri ini.
Karena skala masalah yang dibahas cukup luas dan menghindari hitam putih, tim
Ekspedisi Indonesia Biru dibantu 11 videografer dari berbagai daerah untuk
mengumpulkan keping-keping cerita di lapangan yang terjadi antara 2015-2018
agar tetap aktual.

ASIMETRIS adalah film kesembilan dari hasil perjalanan ekspedisi setelah “Samin vs
Semen”, “Kala Benoa”, The Mahuzes” dan lima film lainnya yang juga didukung oleh
Watchdoc. Sejumlah organisasi lingkungan dan individu-individu juga ikut memberi
dukungan, baik sepanjang perjalanan ekspedisi, hingga selesainya porses produksi
film ini.

Watchdoc sendiri adalah rumah produksi audio visual yang dirintis sejak 2009 dan
telah menghasilkan karya-karya komersial maupun non-komersial untuk berbagai
stasiun televisi dan media di dalam dan luar negeri.

Selain juga karya-karya independen yang diputar di jaringan bioskop seperti “Yang
Ketu7uh” (2014), atau ajang festival seperti “Kiri Hijau Kanan Merah” (2009),
“Alkinemokiye” (2011), “Belakang Hotel” (2014), “Rayuan Pulau Palsu” (2016), dan
“Jakarta Unfair” serta “Epilog” (2017). ***

Post Comment