Sang Pejuang Gender dari Lereng Gunung Wilis

sulbesar-300x230Kediri – Sulastri, sosok perempuan satu ini cukup sederhana. Ia tinggal di desa Joho Kecamatan Semen Kabupaten Kediri yang berada di lereng Gunung Wilis Kabupaten Kediri. Penampilan tiap harinya tidak neko-neko. Hidupnya sederhana. Ia hanya lulusan sekolah menengah atas. Tetapi melihat sepak terjangnya sungguh luar biasa. Boleh jadi perempuan dua putra ini satu-satunya perempuan yang mampu mengangkat derajat dan martabat wanita di pedesaan sama dengan kaum laki-laki.

Disamping itu prestasi dalam bidang lingkungan hidup, ia pernah mendapatkan penghargaan berupa kalpataru dari Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Ia juga pernah mendapatkan penghargaan dari She Can Award, sebuah penghargaan untuk wanita inspirasi Indonesia yang berprestasi.

Meski hanya lulusan SMA, ia mampu menggerakkan perempuan di Desa Joho Kabupaten Kediri untuk lebih maju, berdaya, dan sederajad dengan kaum laki-laki yang mendominasi sejak awal berdirinya desa itu. Ia ini pernah menjadi sorang tenaga kerja wanita yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong. Sepulang dari Hongkong inilah kemudian ia melihat para ibu rumah tangga yang selalu berada di bawah bayang-bayang laki-laki.

Berawal dari paguyuban Sido Rukun, perempuan usia 34 mencoba menghimpun para perempuan di Desa Joho untuk mengembangkan semua potensi desa. Baik potensi sumber daya alam, manusia, maupun potensi budaya. Karena keteguhannya itulah ia akhirnya dipercaya untuk menjadi Kepala Desa.

“Saya ini dilahirkan di Pangkalanbun Kalimantan Tengah. Kenapa saya dilahirkan di sana, karena sejak tahun 1977, kedua orangtua saya ikut transmigrasi. Ini karena kehidupan di Desa Joho dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi. Bencana tanah longsor juga sering menghantui. Oleh karenanya orang tua memutuskan untuk ikut program pemerintah,” katanya.

Namun di usia delapan bulan ia dibawa oleh ibu kembali ke Desa Joho ini. Sementara ayahnya tetap menetap di Pangkalanbun. Pada usianya yang baru 3 tahun ia harus mengungsi ke desa lain karena di desa tersebut terjadi bencana longsor yang mengakibatkan korban jiwa puluhan orang pada tahun 1981.

Pasca kejadian itu, sebenarnya Pemerintah Kabupaten Kediri sudah merekomendasikan agar Dusun Dasun, Desa Joho untuk dikosongkan saja karena dianggap tidak layak untuk dihuni. Namun rekomendasi dari Pemkab itu tidak dihiraukan warga. Mereka masih tetap ngotot untuk bertahan tinggal di Dasun karena mengganggap itu adalah tanah kelahiran mereka. Warga hanya
pindah ke daerah yang dianggap aman dari longsor namun masih dalam wilayah Dusun Dasun.

Pasca bencana ini kondisi ekonomi orang tuanya tidak semakin membaik. Ia pun kembali ke ayahnya di Pangkalanbun sampai tamat SMP. Kemudian Sulastri kembali lagi ke Desa Joho tinggal bersama dengan ibu. Ia melanjutkan sekolah di Kota Kediri yang jaraknya sekitar 25 kilometer. Bagi orang desa, anak perempuan bisa sekolah sampai dengan SMA saat itu sudah luar biasa. Karena banyak perempuannya yang hanya lulusan SD.

Setelah lulus SMA, ia kemudian memutuskan untuk bekerja. Ia pernah mendaftarkan pekerjaan menjadi TKW di Hongkong. Akhirnya berhasil dan bekerja menjadi PRT di Hongkong selama dua tahun. Kemudian ia pulang dan bekerja di sebuah perusahaan pengolahan kayu di Pangkalanbun bagian administrasi.

Tahun 1999 ia menikah. Setelah menikah itu, ia pun kemudian pulang lagi ke Desa Joho untuk merawat ibunya. Kemudian ia ikut sebuah acara yang diselenggarakan mahasiswa yang sedang kuliah kerja nyata (KKN) di desanya. Sedikit demi sedikit ia pun sadar. Ibu-ibu di desa tersebut umumnya hanya kerja ngurusi dapur saja. KKN mahasiswa ini yang kemudian menyadarkan dirinya ternyata seorang perempuan sebenarnya juga bisa melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat daripada sekedar pasif menunggu suami pulang kerja di rumah.sulbesar1-187x300

Awal mulanya didirkan Taman Pendidikan Alquran(TPA) yang ia dirikan bersama KKN mahasiswa. Para pengajarnya adalah para mahasiswa STAIN yang sedang melakukan KKN. Namun kemudian perlahan ada kaderisasi tenaga pengajar yang kemudian dijalankan oleh para ibu-ibu di Desa Joho ini.

Pada perkembangannya TPA ini menjadi menjadi semakin berkembang. Namun di satu sisi harus dipikirkan imbalan bagi para tenaga pengajarnya. Karena saat itu, para tenaga pengajarnya hanya mengajar berdasarkan keikhlasan. Sedangkan untuk menarik iuran dari para orangtua siswa dirasakan tidak mungkin karena aku berpikir sebisa mungkin jangan sampai memberatkan orangtua siswa..

Beruntung kemudian rektor STAIN Kediri memberikan bantuan tiga ekor kambing. “Saya kemudian berpikir, tiga ekor kambing bantuan rektor itu dibuat arisan untuk para pengajar TPA. Setelah kambing itu beranak, induknya diberikan kepada pengajar lainnya secara bergantian. Ternyata model arisan kambing ini bisa berjalan dengan lancar dan menjadi besar. Saat ini, arisan kambing bukan hanya menjadi hak para pengajar TPA saja. Tapi sudah berkembang ke warga lain di luar tenaga pengajar TPA,” katanya.

Dari pengalaman mengorganisasi TPA dan arisan kambing ini membuatnya semakin yakin jika ternyata perempuan juga mempunyai potensi yang sama dengan laki-laki. Setelah dianggap berhasil mengelola TPA dan arisan kambing, sejumlah kegiatan pemberdayaan ibu-ibu pun kemudian bergulir seperti arisan beras, industri rumah aneka kripik mulai kripik pisang, kripik ketela, pisang, sukun, talas dan kripik lainnya yang bahannya dari ubi-ubian hasil desa.

Setelah sukses dengan kripik pisang, Sulastri kemudian berinisiatif untuk mendirikan koperasi sekaligus arisan uang. Pendirian koperasi ini ide dasarnya sangat sedehana yakni untuk membantu warga yang terjerat hutang rentenir. Karena pada saat itu keberadaan rentenir seakan menjadi tujuan utama warga dalam meminjam uang. Para rentenir menguasai ekonomi para warga Desa Jojo karena mereka hanya mengandalkan penghasilan dari bercocok tanam. Dalam setahun, mereka paling hanya bisa panen dua kali.

Selain bercocok tanam, mereka tak punya penghasilan lain. Sedangkan satu sisi, hidup harus terus berjalan. Tak heran jika kemudian banyak warga yang terjerat hutang dengan rentenir untuk menutupi kehidupan sehari-hari.

Koperasi yang diberinama Sido Rukun ini berdiri pada tahun 2006 dan berkembang. Banyak manfat yang bisa diambil dari adanya koperasi ini. Dan yang paling penting, warga Desa Joho kini sudah tidak bergantung lagi dengan rentenir. Tak lama setelah koperasi terbentuk, idenya tidak berhenti, Ia pun bersama ibu-ibu lainnya mendeklarasikan berdirinya Paguyuban Sido Rukun.

Awalnya hanya beranggotakan 20 orang. Namun sekarang sudah berkembang menjadi ratusan. Modalnya pun yang awalnya hanya berasal dari para anggota sebesar Rp 50.000, kini sudah mempunyai omset sekitar 300 juta.

Banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi saat berdirinya koperasi. Ia harus naik turun gunung mendatangi rumah-rumah warga desa agar mau bergabung dengan koperasinya itu. Begitu juga dengan arisan beras yang ia bentuk sejaka tahun 2004 ini juga mengalami kendala yakni tidak ada dukungan dan simpati dari aparat desa. Cibiran dan ejekan dari pamong desa yang mayoritas laki-laki itu datang silih berganti. “Kalian perempuan hanya lulusan SD saja kok mau mendirikan koperasi,” kata salah satu pamong
ditirukan Sulastri.

Ia pun tak patah arang. Ia mencoba untuk menghubungi mahasiswa yang pernah KKN di desanya. Ia minta mereka untuk memberikan pelatihan bagaimana mendirikan dan mengelola koperasi yang baik. “Alhamdulillah koperasi kami malah menjadi Juara 1 Lomba Administrasi Pra Koperasi seKabupaten Kediri tahun 2010. Aku teringat, pada saat presentasi di hadapan juri, peserta lain menggunakan laptop. Kita hanya membawa setumpuk buku-buku administrasi koperasi. Tapi justru kami malah menjadi juara 1,” katanya.

Dari sinilah kemudian banyak simpati dari warga desa khususnya kaum wanita. Ia pun mengembangkan kesenian peninggalan nenek moyang yakni musik lesung yang khusus dimainkan para ibu-ibu yang menjadi langganan pemerintah setempat ketika mengadakan sambutan tamu-tamu luar daerah atau perayaan hari Kemerdekaan RI.

Kemudian ia berinisiatif mengajak warga terutama ibu-ibu untuk menanam pohon, untuk mencegah longsor. Saat ini lahan yang sudah tersentuh penghijauan sudah mencapai 46 hektar. Dari sinilah kemudian ia mendapatkan penghargaan terbaik pertama kategori pembina lingkungan lomba pelestarian fungsi lingkungan hidup Provinsi Jawa Timur yang diserahkan pada 18 Juli 2011. Inilah awal kesuksesannya. Ia kemudian dipercaya oleh warga desa tersebut untuk memimpin.

Post Comment